Berjuang (Babak I)

Aku merasa perlu untuk mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata di blog yang selalu kuterlantarkan ini.

Divonis memiliki sebuah penyakit yang lumayan tak biasa ini membuatku mempertimbangkan kematian. Dan jujur saja, aku takut. Aku tidak bisa menahan air mataku setiap kali aku harus membayangkan aku mungkin tidak punya kesempatan ini dan itu lagi. Betapa tidak, masih banyak mimpi yang kusimpan dan ingin kugapai. Ingin punya anak, ingin punya keluarga yang bahagia dengan sebuah rumah kecil. Tapi penyakit ini memaksaku mempertimbangkan jalan yang berbeda.

Kesendirianku juga mendorongku untuk sangat bergantung pada Tuhan. Karena kutahu, sebenarnya aku tidak sendirian di kamarku ini. Aku juga sangat berharap Beliau mau mempertimbangkan aku untuk sembuh total dan mencapai cita-cita kecil tadi. Tapi ya, itu terserah Beliau lah, toh yang empunya segala sesuatunya itu Dia dan Dia tahu apa yang terbaik untukku.

Ah, tapi aku juga tidak mau lupa tugasku yang harus kuselesaikan di bangku kuliah, yaitu thesis. Susah memang menyeleraskan tugas kuliah, sedikit ringisan-ringisan sakit dan mental yang kadang tidak mendukung. Tapi untung saja aku masih bisa tidur nyenyak dan makan enak. Itu hal yang sangat patut kusyukuri.

Kembali ke sekitar sebulan lalu, aku menemukan diriku tidak bisa menemukan posisi tidur yang tak menyakitkan. Aku bangun tapi pikiranku tak bisa kukendalikan. Rasa sakit menjalari selurun badan. Yang bisa kulakukan hanyalah meringis, memutar dan sesekali berteriak. Selanjutnya, tanpa pikir panjang, kutelepon suami di Indonesia. Ternyata, aku cuma bisa membunyikan ringisan dan sedikit kata-kata yang jelas. Suamiku menyarankan menelepon Fathi, temanku yang di Jepang untuk pergi ke rumah sakit malam itu juga. Dan aku menelepon Fathi. Fathi pun datang tergopoh-gopoh setelah membeli pain killer di dekat rumahnya. Aku tahu, keadaannya sangat tidak nyaman. Tapi dia datang dan aku langsung merasa baikan begitu dia datang dan kami bercakap-cakap dan tertawa. Kegembiraan selalu jadi obat.

Akhirnya dia pulang.

Tak lama, aku kembali ke ke tempat tidurku, memulai mencari posisi tidur yang pas, dan tetap sakit. Nyerinya tetap ada. Aku menelepon Fathi lagi. Kali ini harus ke rumah sakit. Kami berjanji bertemu di salah satu stasiun subway. Perjalanan menuju subway tidak mudah bagiku, sakitnya harus kutahan sembari aku berjalan.

Di emergency room tengah malam itu, si perawat menanyakan beberapa hal. Dan seolah olah dia tahu segala sesuatunya, jawaban pertamaku membuat dia paham semua penyakitku. Malam itu juga, segala macam scan kujalani. Terima kasih buat teknologi Jepang, akhirnya penyakitku mendapat kejelasan. Aku disuruh datang lagi keesokan paginya.

Menemui dokter spesialis membuatku merasa menyerahkan diri ke polisi setelah melakukan tindakan kriminal dan bersiap menerima vonis. Dengan muka ceria, si dokter menjelaskan penyakitnya dari A sampai J, dan dia berhenti untuk menerima telpon. Ryka, temanku yang lain, menemaniku kali ini. Dia berjuang menerjemahkan apa kata dokter. Dia menemukan kata-kata kedokteran yang sulit. Berjuang dengan kamusnya, dia berhasil juga menerjemahkannya padaku. Si dokter kembali dan mejelaskan mulai K ke Z penyakitku. Blas, aku ga mengerti satu pun. Vonisku baru dibacakan ketika Ryka menerjemahkan semua.

Aku harus berkunjung lagi dengan teratur kesana. Seminggu lalu aku diberitahu aku sudah bisa menghentikan kunjungan regulerku dan datang ketika ada keluhan saja. Hari ini, keluhan itu kembali lagi. Besok aku harus kesana lagi. Fiuh, akankah ini berakhir bahagia? Aku pun tak tahu. Yang pasti, aku harus berjuang mengintegrasikan thesisku dengan perjuangan melawan penyakit ini.

Dari menyusun thesis aku semakin mengenal topik yang kupilih, tapi dari penyakit ini aku belajar jauh lebih banyak tentang hubunganku dan Tuhan, bagaimana Dia menunjukkan kuasaNya di saat kita tak berdaya, bagaimana dia menunjukkan penyertaanNya di saat kita terpuruk. Dan yang paling pasti, Dia tak pernah mengecewakan.

Terima kasih berjuta-juta (Rupiah) :p pada penerjemah-penerjemah tercinta: Fathi dan Ryka

Ibu, Guru dan Sahabat

Mamak, begitu kami memanggil ibu kami di keluarga batak, adalah panutan kami dari kami kecil hingga kami dewasa. Kami bertanya apa saja, dan mamak menjawab bak sebuah kamus hidup berjalan, mulai dari cara memasak ayam goreng, obat masuk angin, obat rindu sampai cara melahirkan dengan mudah.

Dia tahu lebih dari yang bisa kubayangkan. Mamak kami ini juga merangkap guruku waktu pertama kali menginjak bangku sekolah. Dia mengajarkan bagaimana membaca huruf b besar perutnya dan i yang terbang topinya, yang setiap pagi membawakan makan siang di dalam tasnya. Tasnya serupa tas Pak Janggut tokoh majalah bobo, yang isinya bisa berupa apa saja, dari kancing peniti, bon-bon (sebutan permen), uang ribuan yang diikat karet sampai segenggam lada. Setiap minta, mamak merogoh tasnya, dan walllaaaa permintaan terkabul.

Yang sangat istimewa dari mamak adalah pengajaran-pengajaran tentang hidup dan kerohanian. Dia adalah guru dan teladan, yang memberi materi pengajaran tidak semata dari kata-kata tapi lebih pada contoh hidup. Bagaimana seorang mamak menghadapi setiap kesulitan dan tantangan hidup. Bagaimana dia bertindak ketika ada orang menantang keputusan keputusan hidupnya yang matang. Lembut tapi kokoh seperti batu karang, itulah inti dari semua tindakannya. Continue reading

Adaptasi Lagi

Dengan menggigil kuteruskan mengetik report yang harus dikumpulkan besok meskipun waktu sudah menunjukkan 2.30 pagi. Udara memang kurang bersahabat. Termometer di penggaris yang baru saja kubeli menunjukkan batang merah pendek hampir menyentuh nol derajat. Terbayang wajah ketua kelompokku yang minta belas kasihan kami anggota-anggotanya. Kami memang bukan anggota kelompok yang baik, karena ketua kelompokku ini harus menderita atas kemalasan kami yang berkepanjangan. Mungkin dia sudah mengutuk dalam hati, atau sekedar menyesalkan hari kami dipertemukan sebagai kelompok. Satu semester cukuplah baginya, aku ingin menutup kebersamaan ini dengan manis.

Dulu di Jakarta, waktu aku sedang berjuang meraih gelar sarjanaku (aka Diploma Empat), aku seringkali terlibat dalam kelompok yang sama dengan orang-orang dari suku berbeda-beda. Suku berbeda menciptakan kebiasaan berbeda. Kebiasaan berbeda bukan berarti konflik, tapi pembelajaran. Aku lumayan banyak belajar dari keadaan itu meskipun memang diawali konflik-konflik. Kelembutan Jawa menyatu dengan kekerasan Batak dan kefleksibelan seorang anak Jakarta. Tak kupingkiri adaptasinya susah dan kadangakala menjadi hal yang sulit dan mengejutkan.

Sekarang ternyata aku terpaksa naik kelas. Teman-temanku tidak lagi Jawa, Batak atau Betawi. Aku duduk semeja dengan seorang Jepang, Uzbekistan, dan Ajarbaizan dengan kebiasaan jauh berbeda. Satu pelajaran penting, “ketika kita merasa orang lain aneh, keanehan itu juga yang dirasakan orang lain tersebut terhadap kita”. Itulah perbedaan.

Jujur, aku merasa aneh sekaligus kagum dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Ketuaku Jepang, pekerja keras tentu saja, rapi dan telaten, paling telaten di antara kami meskipun dia seorang lelaki. Dia memiliki semua citra seorang Jepang yang biasanya kita kenakan pada seorang Jepang. Hampir semua temanku, hm… sepertinya semua teman Jepangku pernah tinggal di negara berbahasa Inggris, jadi bahasa Inggris mereka keren, seringkali lebih keren dari kita Indonesia. Ketuaku ini pernah tinggal di Inggris untuk pertukaran pelajar. Cukuplah membuatku kagum.

Teman dari Uzbek dan Ajarbaizan lumayan mirip kebiasaanya, nyentrik dan memiliki ide sendiri tentang kreativitas. Awalnya aneh, sekarang aku mulai mencoba untuk menerima itu bukan sebagai keanehan, karena dia pasti mengira aku “tidak kreatif” dan mungkin juga “anak aneh” atau “kaku”. Yang dari Uzbek religius, sementara dari Ajarbaizan hedon. Aku tidak ingin menjudge mana yang lebih baik atau lebih buruk. Itu hal yang sudah ada disana, tidak akan kucampuri, kecuali dia meminta pendapatku atau melibatkanku.

Apakah aku sudah ahli dalam adaptasi? Tentu tidak, ternyata ini pembelajaran tanpa pangkal dan ujung. Aku baru sadar, dengan teman Jawaku aku kembali masih perlu waktu untuk adaptasi lagi. Sudah lupa teknik-tekniknya.

Mau nerusin ngetik report lagi ya

Autumn in Japan

Sori semua, ga update terus karena kesibukan dan hobi baru.

Ohya, pengen mamerin foto dan pengalaman baru disini. Kebetulan sekarang lagi musim gugur menjelang musim dingin, jadi banyak foto momiji (daun merah khas musim gugur) yang kupunya. Berhubung sekarang libur, ngga kemana-mana juga karena sakit, aku jadi teringat dengan blog ku yang lama tak kugubris.

Tanggal 23 November lalu, kami (aku dan teman-teman) mengunjungi tempat wisata musim gugur Korankei, masih di sekitar Nagoya. Perjalanan ini pun kurekam dalam foto-foto berikut:

Pantai Petitenget (D-3)

Lompat Indah @Petitenget Beach

Lompat Indah @Petitenget Beach

Pantai ini juga kami temukan tanpa sengaja dalam pencarian pantai lain. Pantai ini sering digunakan buat acara keagamaan, sehingga di areal tertentu tidak diperkenankan berjemur dan berenang. Akhirnya kami memutuskan berfoto-foto dan berbasah-basah kaki sedikit di situ.

My Hubby @Petitenget Beach

My Hubby @Petitenget Beach

Di tepi pantai yang lumayan tenang ini, ada restoran kecil. Tiga orang bule sedang asik makan dan minum di situ sambil berbincang-bincang. Ternyata ketiganya bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Terlihat ketika ada pedagang souvenir lewat dan menawarkan barangnya.

Loncat Indah @Petitenget Beach

Loncat Indah @Petitenget Beach

Sekalian membersihkan diri dari pasir pantai, kami memesan soto, jus dan banana split (total sekitar Rp 100.000). Banana Split-nya enak, lebih enak dari Pizza Hut punya, atau mungkin dipengaruhi laparku.

Banana Split @Petitenget Beach

Banana Split @Petitenget Beach

TOTAL BIAYA Rp 100.000 saja.

Geger Beach (D-2)

Kami tidak tahu bagaimana ceritanya. Hari kedua di Bali, kami dengan motor matik menempuh jalan-jalan kecil Bali, tiba di pantai ini (Geger Beach). Di pintu masuk (ga ada gerbangnya sama sekali) kami diminta untuk membayar Rp 1.000/orang. Pasirnya tebal dan sulit untuk memarkirkan motornya.

Me @Geger Beach

Me @Geger Beach

Di Geger Beach ini kami menemukan bule-bule yang sedang berjemur, minus wisatawan lokal. Pemandangan dan suasananya berbeda jauh dari Kuta yang ramai. Yang kami lakukan di pantai ini hanya makan dan foto-foto, berhubung outfit yang kurang cocok buat ke pantai.

My Hubby @Geger Beach

My Hubby @Geger Beach

Makanan di sini super duper mahal, gileee. Minuman harganya kalo aku tak salah ingat sekitar Rp 35.000 untuk fruit punch, padahal rasanya ga ngerti. Kami juga memesan kentang goreng porsi kecil dengan harga Rp 50.000.

Me & My Hubby @Geger Beach

Me & My Hubby @Geger Beach

Sepulang dari Geger Beach, kami mencoba melihat hasil foto yang kami ambil dan walllaaaa… pantainya memang cantik. 😉

Daftar Biaya

Uang masuk Rp 2.000 (2 orang)
Fruit Punch Rp 35.000
Kentang Goreng Rp 50.000
Bensin Rp 10.000

TOTAL berdua Rp 97.000

Garuda Wisnu Kencana (D-2)

Garuda Wisnu Kencana

Garuda Wisnu Kencana

Kami sudah kali kedua mengunjungi tempat wisata ini. Kunjungan pertama, seorang teman asli Bali menemani kami. Saat itu, kami langsung jatuh cinta dengan karya tangan dari logam itu. Aku kagum lebih karena ukurannya yang besar dan logam yang terkesan bukan logam tapi batu. Sayang, potongan-potongan patung itu belum disatukan sampai sekarang. Tangannya masih jauh dari badannya dan burung tunggangannya.

GWK

GWK

Nah, kali kunjungan kedua ini kami mencoba nekat sendiri tanpa bantuan siapa-siapa ke sana. Dengan mengendarai motor matik yang terhitung terlalu kecil untuk badan kami yang besar, kami mendaki menuju GWK. Kami menyempatkan diri berfoto di gedung pertunjukkan yang ditelantarkan di jalan menuju GWK itu. Lumayanlah buat mengenang bentuk-bentuknya.

Garuda Wisnu Kencana (burung tunggangan)

Garuda Wisnu Kencana (burung tunggangan)

Setelah memarkirkan motor, kami berjalan kaki ke puncak tertinggi tempat wisata ini, meskipun sebenarnya bisa saja masuk dari pintu gerbang dekat parkir motor. Melelahkan tapi menyenangkan, itulah kesan yang kami dapat.

Puas berfoto-foto, kami mulai lelah dan haus. Kebetulan saat itu bulan puasa, jadi kami agak sungkan memesan makanan. Tapi karena sudah tak tertahan rasa lapar dan hausnya, akhirnya kami memesan makanan.

Warung Jajanan GWK

Warung Jajanan GWK

Agak kaget juga ketika melihat masakan yang ada di menu semuanya masakan sunda. Ini Bandung apa Bali sih? Si abang iseng-iseng memanggil mas-mas di situ dengan “Aaa” dan bukan “Bli”, mereka menoleh. 😀 Di GWK kami menemukan makanan dengan harga murah dan enak.

Jalan Keluar GWK

Jalan Keluar GWK

Jalan keluar yang kami tempuh harus melalui toko souvenir. Kami membeli satu kaos hitam GWK dengan tulisan emas. Lumayan cantik dengan harga Rp 80.000 untuk ukuran XL. Harga-harga di toko souvenir ini hampir sama dengan toko souvenir di dekat Kuta.

Daftar Biaya
Tiket Masuk Rp 25.000/orang
Tiket Motor Rp 5.000/motor
Makan Siang (Nasi Goreng) Rp 25.000
Es Kelapa Rp 10.000
Ice Cone Rp 5.000
Kaos Rp 80.000
Bensin Rp 10.000

TOTAL (2 orang): Rp 220.000 (2 tiket, 2 nasi goreng dan 2 es kelapa)

Tips Mengeksplor Bali

Tanah Lot

Tanah Lot

Siapa bilang negara kita tidak cantik. Indonesia itu indah, lebih dari negara lain yang kukunjungi atau kulihat di media massa sebelumnya.

Berbekalkan peta cetakan Periplus, kami mengarungi Bali pada kunjungan kedua ini. Hasilnya lumayan asik. Hari pertama kami mencoba menyewa motor roda dua dan berhasil kesasar ke pantai yang asik punya. Hari kedua, tetap nekat menyewa motor dan mendaki menuju GWK (Garuda Wisnu Kencana). Kasian motor matiknya, karena harus menampung dua bodi yang tidak terlalu ramping. Hari ketiga, nyerah menyewa motor roda dua, kami pun mencoba menyewa mobil. Kali ini jiwa petualang kami dapat dipuaskan sampai Ubud dan Tabanan.

Perjalanan ini bisa ditiru bahkan oleh pemula sekalipun. Kalian bisa coba dengan tips-tips sederhana berikut.

1. Waktu Kunjungan
Sebaiknya dipilih waktu yang tidak bertepatan dengan hari libur/hari besar di Indonesia. Memang, kita juga akan kehilangan momen untuk melihat banyak pertunjukkan, tapi jika tujuan kita mengeksplor Bali, ada baiknya pilih saja hari yang sepi. Kemarin kami pergi kesana sebelum hari libur menjelang lebaran. Keuntungan yang didapatkan, belanja juga bisa murah, hotel tarifnya ga terlalu mahal, begitu juga dengan tiket pesawat.

2. Tiket Pesawat
Logo AirAsia Sepertinya AirAsia merupakan penyedia tiket termurah sekarang ini, tapi mungkin juga diperoleh dari promo-promo perusahaan penerbangan lain.

3. Peta
Bawa peta Periplus, yang buku sepertinya lebih baik, tapi peta Periplus yang selembar besar itu juga boleh. Harganya berkisar Rp 100.000. Peta lain kurang bisa diandalkan. Kami membeli banyak tipe peta dan kecewa karena cukup menyesatkan atau mungkin karena belum di-update.

Oh ya, hampir lupa. Jangan lupa membawa kompas. Tanpa kompas, membaca peta akan terasa lebih sulit.

4. Hotel
Continue reading

Feliz Cumpleaños

Sebuah renungan kecil menjelang ulang tahunku…
Beberapa dari beribu pertanyaan “kenapa?” yang pernah terpikirkan dalam hidupku

Suatu hari di tahun 1989
Karena penugasan bapak yang baru, kami harus pindah ke Kabanjahe. Hidup baru dan sekolah baru. Di sekolah baru, aku diejek dan dicap sebagai “anak kampung” yang terbelakang masuk kota. Tidak bisa kusalahkan juga, tapi aku bertanya “kenapa aku yang anak kampung harus direndahkan?”

Suatu saat di tahun 1990
Pengajaran yang seringkali berakhir dengan pukulan menambah tekanan. Aku termasuk siswa penerima pukulan terbanyak karena tidak bisa menghapal perkalian dan banyak kesalahan lainnya. Aku pun bertanya “kenapa aku bodoh?”

1996 Class

1996 Class

Suatu saat di tahun 1996
Aku berjuang menghadapi kenyataan dan Tuhan memberiku kesempatan bertemu seorang guru matematika yang memperkenalkan metode baru. Metode yang sangat kusukai karena ketidaksukaanku pada metode sebelumnya. Coba saja tidak ada metode lama itu, mungkin saja aku menganggap remeh metode baru ini. Continue reading

Potongan Hari-Hari di Nagoya

Lama tak mengisi blog ini lagi. Ditinggalkan dan diabaikan. Bukan tanpa alasan juga sih. Belakangan ini aku memulai kesibukan-kesibukan mahasiswa pada umumnya di Jepang. Mulai dari ujian-ujian sampai ke kegiatan relaksasi. Kali ini aku hanya mencuplik foto-foto yang sekiranya menggambarkan beberapa kegiatan belakangan ini.

Angklung Time

Angklung Time

Kesibukan kuliah diselingi dengan musik adalah harmonisasi yang tak terbantahkan. Yuk, ikutan angklung di halaman kampus Nagoya. Memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang. Angklung itu punya Indonesia loh, jangan tertipu dengan gosip. 😉

Ikut Nyontreng

Ikut Nyontreng

Ingat kewajiban sebagai warga negara yang baik, ikut milih. Pemilu di Nagoya lumayan unik, kita nyontreng dan kirim via pos ke kedubes Tokyo. Inilah pemilu pertamaku di Nagoya, memilih presiden dan wakil presiden. Senang bisa menyumbang satu suara buat calon pilihanku.

Careless

Careless

Ini dia kertas ujian yang dibagikan sensei beberapa hari yang lalu. Di satu halaman terdapat tulisan merah yang kentara, Careless. Anak yang selalu membuat kesalahan-kesalahan memalukan, :p . Tolong dong, masa memundurkan dua koma aja susahnya minta ampun.

In words please

In words please

Di halaman lain, peringatan berikutnya muncul. Mungkin karena sensei merasa cukuplah sedikit kata dan rumus saja, dia pun mencoret peringatannya. Aku suka banget menerangkan sesuatu dengan grafik tanpa kata-kata, sensei pun jadi gemas lihatnya.